Pengikut

Senin, 03 Desember 2012

@Tentang Sepotong Rindu


 Langit : 
 
Rindu embun itu mungkin sudah lama tersesat,
mengalamatkan gelisah hanya pada tetesan air yang jatuh dari tebing pipi ...
Apakah ia benar-benar tersenyum langit, Ia sedikit sakit.

Setiap waktu Ia katakan, tersenyumlah semuanya akan berakhir
 sakit ini hanya ilusi karena yang ditangisipun memang takada. 

Aku menangis hanya untuk sebuah rindu, iya  langit aku akui, setiap hari, setiap waktu,  setiap sepenggalan matahari naik.

Matahari sepenggal naik selalu jadi takbiasa, ada harap-harap ruhaniah yang sering sekali dipinta tanpa seorangpun atau siapapun tahu kecuali hanya Dia. Setiap kali meminta dalam tadahan tangan berbentuk permohonan yang bukan untukku sang airmata selalu turut menemani hingga membasahi mukenaku.
Aku menitipkan rindu itu pada yang semetinya pada Dia yang Maha mendengarkan, aku telah katakan padamu awalnya memang aku menghitung waktu namun sekarang akupun terlupa sudah berapa lama aku telah berusaha.

Saat aku masuk ke ruang ilusi itu ada sapa dan tanya antara aku dan dirinya, semua biasa saja, apa yang dipikirkan tentang dirikupun aku takpernah tahu, siapa aku dalam hidupnyapun aku taktahu, Tiada yang bisa dikatakan setelah ada sapa dan tanya, yang tadinya tak mau bicara akhirnya menarikan tanganya untuk kalimat jawab yang terus menyambung. hanya berkata tak menjelaskan apapun kecuali kabar. Bisu dengan gundah yang gulana menggiring meredam tangis kemarin saat senja. Rasanya terdua itu sakit ternyata dan lebih sakit lagi kala sadar tidak seharusnya ada. 

Temaram setiap malam menurunkan ego para penikmat gelap dengan tenangnya saat semua terpejam mengistirahatkan mata. Mereka yang berusaha dengan peluhnya, bukan tak penat tapi itulah cara mencapai tujuan. Sapa canda hingga tangis ada namun terjadi karena terlalu larut ditelan waktu. Mengukur sejauh mana memudarkan rasa yang tak terakui.

Ketidakjelasan itu jangan dijelaskan, aku tahu langit, bila sekarang pertanyaan itu kujawab ku takyakin akan ada keputusan dipilihan yang kita tahu, arah mana yang akan kita tempuh nanti. Maka entah siapa yang akan mengakhiri ini. Sudahi, aku tahu salah satunya nanti akan lelah dengan diam. Dan sampai waktu itu karena terlalu lekat dengan diam bahkan terabaikan walau fajar memberikan isyarat bila tak ada lidah dalam kisah ini, lalu dengan isyarat apa pertanyaan dan jawaban itu akan bisa terpahami oleh diriku dan dirinya. Kurasa takdirNya akan punya cara bicara yang lebih sempurna, terjaga dari segala marabahaya dosa dan akan terjaga dengan Do'a. 

Aku takmenuntut keberadaanya di masa depanku langit, sungguh. Siapa yang takinginkan seseorang yang baik itu ada dalam hidup tapi aku membiarkan Tuhan yang dengan indah menunjukan jalannya dan menyakinkan hatinya, aku hanya akan ada dengan sebatas yang seharusnya.

Langit apakah kau merasakan yang sama denganku ketika merasa rindu, rasa itu akan lebih terasa indah saat rindu itu hanya disampaikan pada Sang Maha Pemilik dibersamai dengan do'a-do'a penjagaan dan juga segala kebaikan untuknya,   kata siapa rindu itu takada untukmu, langit takhanya ada namanya dalam do'aku, namamu dan nama mereka yang aku sayangi dan menyanyangiku sudah ku khususkan, aku betah berlama-lama diwaktu itu, bahkan waktu berdo'aku lebih lama dibanding dengan waktu aku berukuk, dan bersujud tanpa memotong atau memperpendek rakaat dan surat-surat yang aku bacakan. Nikmatnya sampai terasa dengan tetesan air yang selalu jatuh dari mataku. Aku sadari, apa yang aku punya,? takada langit kecuali segala yang Dia berikan berupa nikmat-nikmat hidup yang takkan bisa aku menyebutkannya dalam surat-surat kita, kini sepenuhnya daya dan upayaku hanya ada dalam do'a  .

Do'a itu seperti buih-buih yang terbang
hingga akhirnya pecah dan itulah saatnya suara hati didendengarkanNya..
menitikan keharuan tanda kerinduan di sujud-sujud akhirku

Bisa saja do’aku keliru, tapi akupun tahu Dia yang Maha mendengarkan akan selalu mengganti inginku yang keliru itu dengan hal-hal terbaik dariNya. Aku takingin memaksakan do’a, rindu itu biarlah jadi harap-harap kebaikan yang terucap lisan padaNya, bukankah hanya Dia yang maha menjaga segalanya. 

ada yang berbisik halus
seperti angin yang mulai mengusap lembut meyakinkan dengan cara yang indah setiap kali ku merindu
"Sesungguhnya ada Dia yang sangat mencintaimu Embun" 

Langit kau tahu, disetiap selanya ada rindu bertemu denganNya, untuk berkata padaNya “ jadikanlah akar cinta padaMu menjadi cabang dari ranting-ranting keimanan yang membuatku hanya akan bicara dan menitipkan rindu padamu”

Bagiku, Rindu hanyalah jeda antara setelah pernah menyapa, 
tali yang mengikat kuat hati di dalamnya
menjadikannya tara dengan pertemuan dalam do’a, 
sulurnya merambat ke atas sampai ke mata, membuat jatuh menitik di tebing pipi. 
Taburnya sang penghias malam yang takterhitung
menjelma seperti buih-buih do'a embun yang mulai bicara tanpa suara.

Langit….
Aku memang mencintaiNya dengan ketidaksempurnaanku.
 

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar