Pengikut

Senin, 12 November 2012

@#2 Kucing Dan Majikannya


Langit, dirimu yang bisa berdiri hanya dengan yakin padaNya lebih membuatku iri, bahkan saat tertatih kau masih menuntunku, kau taktunjukan sakitmu , kau tetap berjalan walau perlahan, seakan tatapanmu kedepan menuju satu pasti yang disana kau tahu akan merasai nikmat pasti yang takterkira dalam menujuNya dan kau tetap memegang tanganku, mengajak langkahku tetap mengikutimu. Kau menjadi perantaraNya yang membuatku menarik langkah yang mulai  jauh.

Langit senja hari ini, mengingatkanku pada hujan senja kemarin, katamu surat untuk embun sudah kau kirim namun aku belum sempat membukanya, sekiranya senja itu, aku langsung membukanya, mungkin aku takkan melakukannya. Meluruskan niat itu hal tersulit dari sebuah perbuatan, aku kira aku hanya butuh teman bercerita, kau tahu sendiri aku yang kala sepi selalu mencari suara untuk hanya sekedar kudengar,  akan tetapi rasa nyaman dan senang itu berbeda saat aku bicara padanya.

Minggu pagi itu, selama lama mengenalnya pertama kalinya aku mendengar suaranya dengan jelas, aku mendengar  tertawanya, dan setiap balasan darinya sama sekali takjauh berbeda dengan gayanya ketika dia bicara.Dia katakan “inilah aku”, rasanya aku yang jahat langit, kenapa aku memaksakan kata “aku biasa terhadapnya” bukankah diantara laki-laki dan perempuan yang tak senasab memang takaada persahabatan apalagi persaudaraan. 

Embun : Aku ga gini kesemua orang, ketika aku bercerita berbagai hal padamu sebetulnya kenapa aku bercerita, semua yang  aku ceritakan apa hubungannya denganmu, apa coba ....

Majikan Kucing : apa coba ...

Langit, sekarang aku takut dengan diriku sendiri, sungguh takut. Dengan mudahnya dulu aku katakan padanya

Embun : Jika suatu saat nanti aku sudah aneh aku akan bilang.
Majikan Kucing : Ok

Aku masih menganggap semua biasa, kenapa hanya dia yang aku bicarakan karena memang hanya ada dia,aku takpunya balon percakapan lain langit dengan lelaki selainnya dan bila baginya ini hal yang biasa tapi tidak denganku ini hal yang kurasakan untuk pertama kalinya. Dia yang kurasa bisa menganggapku hanya seorang perempuan biasa, aku taksuka diperhatikan, aku taksuka terlalu banyak ditanya, aku taksuka sikap yang terlalu berlebihan padaku, dari semuanya yang ada hanya dia yang bisa biasa, hanya dia yang takbertanya, tentang dia peduli atau tidak aku takpernah mengetahuinya, tapi yang kutahu dia sangat baik. Terlalu jahat jika pada kelalaianku dia tersalahkan. Apa ini juga salah satu pernyataanmu yang benar bahwa darinya aku takmenemukan ketidaksempurnaannya. Karena akulah ketaksempurnaannya itu.

Bolehkah aku mengutip percakapan kami yang pertama itu langit, aku katakan paadanya betapa aku takut membebani orang lain termasuk dirinya , aku kesal akan apa yang aku rasakan, diriku yang selalu mengangap hal kecil menjadi hal-hal rumit, tapi dia dengan begitu baiknya mendengarkanku dia bahkan bercerita bagaimana seorang Umar Bin Khattab memperlihatkan sikap khusnudzannya. Atau ketika ku katakan aku kekanak-kanakaan dengan sikapku yang kurasa manja, dia hanya membalasnya dengan mengatakan “bukan kekanak-kanakan tapi kekucing-kucingan, anak kecil itu polos tapi kalau kucing ngeliat orang bawaannya suudhzon terus, kamu itu cuman cerita bukan ngerengek dan dia membuatku ikut tertawa bersamanya. Aku rasa semuanya benar-benar biasa langit, kadang perasaan ini ringan kadang pula juga berat, tergantung aku membawanya kemana, akan tetapi kau benar langit Allah itu Allah bukan mesin kebaikan yang bisa ku minta setiap saat. Dia bukan perantara antara aku dengannya. Dia adalah Pusat.

Aku sebetulnya masih bingung, apa ini benar-benar rasa itu karena aku hanya bercerita menurutku, aku takpernah tahu bagaimana menurutnya. Asumsi yang berbeda membuat segala prasangka selalu ada, hanya sepertinya aku harus menjedanya dan melihatnya dari sisi yang biasa, sisi yang tidak memihak pada keinginan dan keyakinan yang egois, sisi yang tidak memihak pada satu kesimpulan bahwa segala perasaankuu berjawaban "iya" hidup ini bukan hanya dipandang dari satu pasang mataku, hidup ini bukan dijalani oleh satu pasang kakiku, hidup ini bukan hanya dirasakan oleh satu hati, aku sadari semua takbisa menjadi satu pemikiran dan satu perasaan, untuk menyakinkan tetap diriku harus bertanya pada satu pemikiran dan perasaan lainnya, satu pasang mata dan satu pasang kaki yang lain tentang apakah ia memiliki pemikiran dan perasaan yang sama denganku, tapi lebih baik aku diam saja dan berharap apa yang kurasakan takterlalu dalam.

Langit, setelah kubaca surat darimu kau tahu, dalam rakaat-rakaatku aku mulai kembali mengetuk pintu mahabahnya dengan sungguh , aku yang taksempurna dengan ibadahku, bahkan setiap ayat yang berseru yaa ayuhalladzina akhirnya membuatku menumpahkan kesesakkan di dadaku, aku membiarkan mata ini basah, aku biarkan tetesan-tetesan itu terus mengalir, aku merasakan kenikmatan kala aku berpikir betapa Allah sesungguhnya sangat menyanyangiku dengan segala keterbatasanku ketika aku mengucapkan ayat-ayat itu dari lisan, lalu dimudahkannya aku dalam menjaganya sesungguhnya Ia percaya, apakah sikap seorang penjaga seperti itu kurasa memang takseharusnya, tapi aku hanya perempuan biasa mungkin hilaf ini akan menjadi sesuatu yang akhirnya aku akan belajar banyak. 

Terimakasih Langit

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar