Pengikut

Senin, 12 November 2012

@#1 PENYELINAP [akuan]



Kabarku kurasa akan semakin baik kala dirimu ada mendengarkanku langit, Hari tanpa pertanyaan “Apa?” mu. Disini ketiadaan dirimu tergambar dari hati yang satu ruangannya kosong belum terisi dan takkan terisi sebelum kamu kembali dengan segala cerita tentang ksatria itu, aku rindu dirimu yang mengusap rambutku, aku masih ingat dirimu yang ikut menangis kala aku berkata “aku takut membenciNya lagi”, obat-obat ini masih harus kuminum entah sampai kapan, aku berusaha untuk tetap bisa bertahan. Hariku dipenuhi lembaran-lembaran ayat yang harus kusetorkan setiap hari, akupun berusaha mencapai targetku, sejauh ini semua masih bisa kulakukan, walaupun mataku akhirnya sering mengantuk karena pada malam hingga tak kurang jam 02.00 pagi barulah aku tertidur, keesokan harinya aku harus banyak menulis, dan menulis. aku ingin seperti yang lain tapi nampaknya diriNya belum mengijinkan.

Tentang kucing dan majikannya, kurasa dia sangat baik sampai hari ini dia terus mendengarkanku, sampai hari ini dia tertawa saat kusapa, dia akan ada saat kumembutuhkannya, dia takpernah bertanya kenapa aku menahannya untuk tetap ada dalam duniaku , aku pernah katakan dia memang seperti kucing takpernah bertanya dan mengkritikku dan dia masih seperti itu, dan kucingnya masih ada dalam cerita-ceritanya. Embun di negeri sakura, aku pernah katakan padamu aku hanya singgah sebentar, takberniat untuk terlalu lama.

Aku belum menemukan siapapun yang menyerupai dirimu disini dan kurasa aku takkan pernah menemukannya.

Iya langit kamu benar aku mulai tertarik dengan siapa perempuan itu dan begitu mudahkah seoranglelaki itu berkata seperti itu padamu. di senja itu aku membaca pesan singkatmu
Lelaki itu mau nikah bulan November katanya,
tapi bukan sama aku :D
#tapi aku masih belum nyerah* do’ain aku ya..

Aku merasakan lelah untukmu. Perkataanmu selalu membuatku bisa melihat segala sesuatu dari cara yang berbeda .

Saat aku membalas pesan singkatmu
“aku lelah untukmu, kenapa kamu tetap bertahan?”
Kamu membalasnya dengan jawaban yang sangat siap.
“Mungkin karena mencintai itu bukan berarti bersama, gak perlu dibales juga kan.Sampai luntur rasa ini dengan sendirinya. Aku pasrah.

Langit, tentang dirimu yang takkan menyerah, bahkan aku masih ingat ketika aku bertanya
“bagaimana jika bukan dia ?”
Jawabmu “kalaupun bukan dia, bukan aku yang menyerah”

Nampaknya ketika dia pergi dirimu masih menunggu ditempat dia meninggalkanmu.

Apa dayaku untuk membuatmu mengalihkan kaki keyakinanmu yang sudah terpaku kuat dengan segala sesuatu yang sudah dijadikan keputusan olehmu, aku sangat berharap dengan warna indah yang bisa membuatmu merasakan bahagia, aku ingin engkau tersenyum. Apapun yang membuatmu bahagia aku menyukainya tapi merasakan lelahmu ini rasanya aku…… hum langit aku berdo’a yang terbaik untukmu.
Lukamu saat ini pasti akan sembuh, dan waktu akan membuatnya berlalu walau mungkin ketika pergi tanda itu akan tetap tertinggal disana.

Ketika sudah ada yang lebih dulu singgah walau nampaknya kali ini dia hanya berani ada didepan pintu, tidak mengetuk apalagi masuk, langit apakah kita harus menariknya dan memaksanya masuk kurasa tidak, aku ingin sesuatu yang tanpa diminta, disuruh atau dipaksa. Membiarkan dia berlalu lalang kearah manapun yang dia suka, namun akan mengetuk dan masuk ke pintu yang mana, aku belum tahu. Biarkan Tuhan yang membuatnya berjalan menemuimu ditempat kemarin dia meninggalkanmu. Semoga saja lelaki itu digerakkan hatinya oleh tuhan untuk mengetuk pintumu, lantas dia takmenjadikanmu sebagai pilihan karena dirimunyalah keputusannya.

Andai basah kuyup diguyur hujan deras sekalipun lama airmata langit itu pasti akan mereda juga … 

Sukabumi, 03 November ’12
Langit tetaplah anggun seperti malam ini, tetaplah berwarna seperti pagi, warna keemassan senja akan nampak membuatmu selalu cantik……
Embun yang rindu padamu …..

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar